Rabu, 23 April 2008

TUMOR


INSYA ALLAH DENGAN HABBATUSSAUDA SAKIT TUMOR BISA DIOBATI. AMIN. HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR. BUKHARI MUSLIM) UNTUK PEMESANAN HUBUNGI BIN MUHSIN HP:085227044550 EMAIL: binmuhsin_group@yahoo.co.id friendster: ujang_bmz@yahoo.co.id

Tumor (berasal dari tumere bahasa Latin, yang berarti "bengkak"), merupakan salah satu dari lima karakteristik inflamasi. Namun, istilah ini sekarang digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan jaringan biologis yang tidak normal. Pertumbuhannya dapat diogolongkan sebagai ganas ("malignant") atau jinak ("benign").

Tumor ganas disebut kanker. Kanker memiliki potensi untuk menyerang dan merusak tissue yang berdekatan dan menciptakan metastasis. Tumor jinak tidak menyerang tissue berdekatan dan tidak menyebarkan benih metastasis, tetapi dapat tumbuh secara lokal menjadi besar. Mereka biasanya tidak muncul kembali setelah penyingkiran melalui operasi.

Berdasarkan tissue awal, tumor dapat dibagi menjadi:

Tumor epithelial dianggap ganas bila dia menembus basal lamina dan dianggap jinak bila tidak.

Tumor disebabkan oleh mutasi dalam DNA sel. Sebuah penimbunan mutasi dibutuhkan untuk tumor dapat muncul. Mutasi yang mengaktifkan onkogen atau menekan gen penahan tumor dapat akhirnya menyebabkan tumor. Sel memiliki mekanisme yang memperbaiki DNA dan mekanisme lainnya yang menyebabkan sel untuk menghancurkan dirinya melalui apoptosis bil DNA rusak terlalu parah. Mutasi yang menahan gen untuk mekanisme ini dapat juga menyebabkan kanker. Sebuah mutasi dalam satu oncogen atau satu gen penahan tumor biasanya tidak cukup menyebabkan terjadinya tumor. Sebuah kombinasi dari sejumlah mutasi dibutuhkan.

DNA microarray dapat digunakan untuk menentukan apakah oncogene atau gen penahan tumor telah termutasi. Di masa depan kemungkinan tumor dapat dirawat lebih baik dengan menggunakan DNA microarray untuk menentukan karakteristik terperinci dari tumor.

Penuaan menyebabkan lebih banyak mutasi di DNA mereka. Ini berarti "prevalence" tumor meningkat kuat sejalan dengan penuaan. Ini juga kasus di mana orang tua yang terdapat tumor, kebanyakan tumor ini merupakan tumor ganas. Contohnya, bila seorang wanita berumur 20 tahun memiliki tumor di dadanya kemungkinan besar tumor ini adalah jinak. Namun, apabila wanita berumur 70 tahun makan kemungkinan besar tumor ini adalah ganas.

SUMBER:

http://id.wikipedia.org/wiki/Tumor

TUMOR


INSYA ALLAH DENGAN HABBATUSSAUDA SAKIT TUMOR BISA DIOBATI. AMIN. HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR. BUKHARI MUSLIM) UNTUK PEMESANAN HUBUNGI BIN MUHSIN HP:085227044550 EMAIL: binmuhsin_group@yahoo.co.id friendster: ujang_bmz@yahoo.co.id

Tumor (berasal dari tumere bahasa Latin, yang berarti "bengkak"), merupakan salah satu dari lima karakteristik inflamasi. Namun, istilah ini sekarang digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan jaringan biologis yang tidak normal. Pertumbuhannya dapat diogolongkan sebagai ganas ("malignant") atau jinak ("benign").

Tumor ganas disebut kanker. Kanker memiliki potensi untuk menyerang dan merusak tissue yang berdekatan dan menciptakan metastasis. Tumor jinak tidak menyerang tissue berdekatan dan tidak menyebarkan benih metastasis, tetapi dapat tumbuh secara lokal menjadi besar. Mereka biasanya tidak muncul kembali setelah penyingkiran melalui operasi.

Berdasarkan tissue awal, tumor dapat dibagi menjadi:

Tumor epithelial dianggap ganas bila dia menembus basal lamina dan dianggap jinak bila tidak.

Tumor disebabkan oleh mutasi dalam DNA sel. Sebuah penimbunan mutasi dibutuhkan untuk tumor dapat muncul. Mutasi yang mengaktifkan onkogen atau menekan gen penahan tumor dapat akhirnya menyebabkan tumor. Sel memiliki mekanisme yang memperbaiki DNA dan mekanisme lainnya yang menyebabkan sel untuk menghancurkan dirinya melalui apoptosis bil DNA rusak terlalu parah. Mutasi yang menahan gen untuk mekanisme ini dapat juga menyebabkan kanker. Sebuah mutasi dalam satu oncogen atau satu gen penahan tumor biasanya tidak cukup menyebabkan terjadinya tumor. Sebuah kombinasi dari sejumlah mutasi dibutuhkan.

DNA microarray dapat digunakan untuk menentukan apakah oncogene atau gen penahan tumor telah termutasi. Di masa depan kemungkinan tumor dapat dirawat lebih baik dengan menggunakan DNA microarray untuk menentukan karakteristik terperinci dari tumor.

Penuaan menyebabkan lebih banyak mutasi di DNA mereka. Ini berarti "prevalence" tumor meningkat kuat sejalan dengan penuaan. Ini juga kasus di mana orang tua yang terdapat tumor, kebanyakan tumor ini merupakan tumor ganas. Contohnya, bila seorang wanita berumur 20 tahun memiliki tumor di dadanya kemungkinan besar tumor ini adalah jinak. Namun, apabila wanita berumur 70 tahun makan kemungkinan besar tumor ini adalah ganas.

SUMBER:

http://id.wikipedia.org/wiki/Tumor

Selasa, 22 April 2008

Kista Ovarium, Ganaskah?


DENGAN HABBATUSSAUDA INSYA ALLAH SAKIT KISTA BISA DIOBATI. AMIN.

Habbatussauda obat segala macam penyakit kecuali kematian (HR. Bukhari - Muslim) Untuk pemesanan hubungi Bin Muhsin di HP: 085227044550 email: binmuhsin_group@yahoo.co.id atau kunjungi http://www.binmuhsinhabbatussauda.blogspot.com

Kista Ovarium, Ganaskah?

Pertanyaan:
Ass Wr Wb
Dokter, sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena telah membaca e-mail saya. Saya seorang mahasiswi, menderita tumor kista. Saya bingung dan takut sekali. Apakah sebenarnya penyebab penyakit kista, khususnya pada gadis seusia saya (19 tahun), dan adakah cara pengobatan tradisional yang bisa membantu penyembuhan penyakit saya tanpa harus menjalani operasi karena saya takut tidak memiliki keturunan. Apakah pengaruhnya jika penyakit ini saya biarkan terlalu lama.
Terima kasih, dokter, atas balasannya.

Wassalam Wr Wb
Ina, Medan

Jawaban
Kista umumnya tidak ganas, tetapi ada juga yang bersifat kanker. Walaupun tidak ganas, adanya kista di ovarium biasanya mengganggu siklus menstruasi dan menimbulkan rasa nyeri di perut bagian bawah. Karena itu, jika terdapat kista sebaiknya segera minta penanganan dokter ahli.

Kista yang bersifat fisiologis lazim terjadi dan itu normal-normal saja. Sesuai siklus menstruasi, di ovarium timbul folikel dan folikelnya berkembang, dan gambarnya seperti kista. Biasanya kista tersebut berukuran di bawah 5 cm, dan dalam tiga bulan akan hilang. Jadi, kista yang bersifat fisiologis tidak perlu operasi, karena tidak berbahaya dan tidak menyebabkan keganasan.

Kista yang bersifat fisiologis ini dialami oleh orang di usia reproduksi karena dia masih mengalami menstruasi. Bila seseorang diperiksa ada kista, jangan takut dulu, karena mungkin kistanya bersifat fisiologis. Biasanya kista fisiologis tidak menimbulkan nyeri pada saat haid.

Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker ovarium. Kanker ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi. Angka kematian yang tinggi karena penyakit ini pada awalnya bersifat tanpa gejala dan tanpa menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis, sehingga 60 -70 persen pasien datang pada stadium lanjut, penyakit ini disebut juga sebagai silent killer. Angka kejadian penyakit ini di Indonesia belum diketahui dengan pasti.

Sampai sekarang belum ada cara deteksi dini yang sederhana untuk memeriksa adanya keganasan ovarium itu. Sekarang yang bisa dipakai masih menggunakan USG, tetapi itu agak sulit kalau diterapkan secara massal karena biayanya cukup mahal. Berbeda halnya dengan kanker serviks (mulut rahim -Red) yang bisa dideteksi dini dengan papsmear.

Untuk menurunkan risiko keganasan ovarium orang menggunakan pil KB. Risiko terjadinya kanker ovarium pada mereka bisa lebih kecil. Karena kanker ovarium terjadi kalau ovariumnya aktif, mengalami pertumbuhan folikel. Tapi dengan menggunakan kontrasepsi hormonal, terutama pil KB, proses itu pada ovarium ditekan, sehingga risikonya terjadi keganasan pada ovarium akan menurun.

Faktor apa saja yang dapat menyebabkan kanker? Cukup banyak! Makanan tinggi lemak dan kurang serat, zat-zat tambahan sintetik pada makanan, kurang olahraga, merokok, polusi, virus, sering stres, dan masih banyak lagi yang lain. Pokoknya gaya hidup yang tidak sehat berpotensi memicu dan memacu pertumbuhan kanker.

Faktor genetik juga berpengaruh. Ada sebagian orang yang secara genetik lebih besar kecenderungannya untuk menderita kanker, ada pula orang yang secara genetik lebih kecil kemungkinannya. Sebab itu, jika dalam riwayat kesehatan keluarga kita ada beberapa orang yang diketahui menderita kanker, misalnya ayah, ibu, kakak, paman, bibi, kakek, nenek, dan lain-lain, maka kita harus lebih waspada menghindari faktor-faktor lain yang dapat memicu kanker. Harus lebih selektif memilih makanan yang sehat, lebih teratur berolahraga, jangan merokok, dan hindari hidup di antara para perokok.

Dalam tubuh kita terdapat gen-gen yang potensial memicu kanker, yaitu yang disebut proto-onkogen. Karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang bersifat karsinogen (karsinogen artinya dapat menyebabkan kanker), polusi, atau terpapar pada zat-zat kimia tertentu, atau karena radiasi, proto-onkogen ini dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.

Gejala dan tandanya
Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium tidak menimbulkan gejala dalam waktu yang lama. Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik. Pada stadium awal dapat berupa gangguan haid. Jika tumor sudah menekan rektum atau kandung kemih mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih. Dapat juga terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri spontan atau nyeri pada saat bersenggama.

Pada stadium lanjut gejala yang terjadi berhubungan dengan adanya asites (penimbunan cairan dalam rongga perut), penyebaran ke omentum (lemak perut), dan organ-organ di dalam rongga perut lainnya seperti usus-usus dan hati. Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan, gangguan buang air besar dan buang air kecil. Penumpukan cairan bisa juga terjadi pada rongga dada akibat penyebaran penyakit ke rongga dada yang mengakibatkan penderita sangat merasa sesak napas.

Karena sebagian besar dari kasus kanker ovarium bermula dari suatu kista, maka apabila pada seorang wanita ditemukan suatu kista ovarium harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kista tersebut bersifat jinak atau ganas (kanker ovarium). Kewaspadaan terhadap kista yang bersifat ganas dilakukan bila:

1. Kista cepat membesar.
2. Kista pada usia remaja atau pascamenopause.
3. Kista dengan dinding yang tebal dan tidak berurutan.
4. Kista dengan bagian padat.
5. Tumor pada ovarium.

Kista ovarium ini bersifat neoplasti, ada yang jinak dan ganas. Pada kista ovarium yang jinak sebaiknya diangkat. Terdapat risiko yang paling ditakuti yaitu mengalami degenerasi keganasan. Di samping itu juga bisa mengalami torsi atau terpuntir sehingga menimbulkan nyeri akut, perdarahan, atau infeksi. Sedangkan prosedur operasi pada pasien yang tersangka kanker ovarium sangat berbeda dengan kista ovarium biasa.

Hal terpenting pada operasi pasien yang tersangka kanker ovarium adalah semaksimal mungkin berusaha agar kista tersebut keluar secara utuh, kemudian dilakukan pemeriksaan ke laboratorium Patologi Anatomik (pemeriksaan potong beku). Apabila hasil pemeriksaan potong beku bukan suatu kanker, maka operasi selesai. Sebaliknya bila hasil pemeriksaan potong beku adalah kanker ovarium maka operasi dilanjutkan dengan mengangkat rahim, ovarium sisi lain, usus buntu, omentum, melakukan biopsi pada tempat yang dicurigai adanya penjalaran kanker di rongga perut dan melakukan pengambilan kelenjar getah bening di panggul.

Sebaiknya tidak mengobati kista ovarium dengan pengobatan tradisional melihat kemungkinan terjadi keganasan. Konsultasikan dengan dokter Anda. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Terima kasih.

SUMBER:

http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=2&id=239500&kat_id=105&kat_id1=150&kat_id2=204


HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR. BUKHARI MUSLIM) UNTUK PEMESANAN HUBUNGI BIN MUHSIN HP:085227044550 EMAIL: binmuhsin_group@yahoo.co.id friendster: ujang_bmz@yahoo.co.id

Kista Ovarium, Ganaskah?


DENGAN HABBATUSSAUDA INSYA ALLAH SAKIT KISTA BISA DIOBATI. AMIN.

Habbatussauda obat segala macam penyakit kecuali kematian (HR. Bukhari - Muslim) Untuk pemesanan hubungi Bin Muhsin di HP: 085227044550 email: binmuhsin_group@yahoo.co.id atau kunjungi http://www.binmuhsinhabbatussauda.blogspot.com

Kista Ovarium, Ganaskah?

Pertanyaan:
Ass Wr Wb
Dokter, sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena telah membaca e-mail saya. Saya seorang mahasiswi, menderita tumor kista. Saya bingung dan takut sekali. Apakah sebenarnya penyebab penyakit kista, khususnya pada gadis seusia saya (19 tahun), dan adakah cara pengobatan tradisional yang bisa membantu penyembuhan penyakit saya tanpa harus menjalani operasi karena saya takut tidak memiliki keturunan. Apakah pengaruhnya jika penyakit ini saya biarkan terlalu lama.
Terima kasih, dokter, atas balasannya.

Wassalam Wr Wb
Ina, Medan

Jawaban
Kista umumnya tidak ganas, tetapi ada juga yang bersifat kanker. Walaupun tidak ganas, adanya kista di ovarium biasanya mengganggu siklus menstruasi dan menimbulkan rasa nyeri di perut bagian bawah. Karena itu, jika terdapat kista sebaiknya segera minta penanganan dokter ahli.

Kista yang bersifat fisiologis lazim terjadi dan itu normal-normal saja. Sesuai siklus menstruasi, di ovarium timbul folikel dan folikelnya berkembang, dan gambarnya seperti kista. Biasanya kista tersebut berukuran di bawah 5 cm, dan dalam tiga bulan akan hilang. Jadi, kista yang bersifat fisiologis tidak perlu operasi, karena tidak berbahaya dan tidak menyebabkan keganasan.

Kista yang bersifat fisiologis ini dialami oleh orang di usia reproduksi karena dia masih mengalami menstruasi. Bila seseorang diperiksa ada kista, jangan takut dulu, karena mungkin kistanya bersifat fisiologis. Biasanya kista fisiologis tidak menimbulkan nyeri pada saat haid.

Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker ovarium. Kanker ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi. Angka kematian yang tinggi karena penyakit ini pada awalnya bersifat tanpa gejala dan tanpa menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis, sehingga 60 -70 persen pasien datang pada stadium lanjut, penyakit ini disebut juga sebagai silent killer. Angka kejadian penyakit ini di Indonesia belum diketahui dengan pasti.

Sampai sekarang belum ada cara deteksi dini yang sederhana untuk memeriksa adanya keganasan ovarium itu. Sekarang yang bisa dipakai masih menggunakan USG, tetapi itu agak sulit kalau diterapkan secara massal karena biayanya cukup mahal. Berbeda halnya dengan kanker serviks (mulut rahim -Red) yang bisa dideteksi dini dengan papsmear.

Untuk menurunkan risiko keganasan ovarium orang menggunakan pil KB. Risiko terjadinya kanker ovarium pada mereka bisa lebih kecil. Karena kanker ovarium terjadi kalau ovariumnya aktif, mengalami pertumbuhan folikel. Tapi dengan menggunakan kontrasepsi hormonal, terutama pil KB, proses itu pada ovarium ditekan, sehingga risikonya terjadi keganasan pada ovarium akan menurun.

Faktor apa saja yang dapat menyebabkan kanker? Cukup banyak! Makanan tinggi lemak dan kurang serat, zat-zat tambahan sintetik pada makanan, kurang olahraga, merokok, polusi, virus, sering stres, dan masih banyak lagi yang lain. Pokoknya gaya hidup yang tidak sehat berpotensi memicu dan memacu pertumbuhan kanker.

Faktor genetik juga berpengaruh. Ada sebagian orang yang secara genetik lebih besar kecenderungannya untuk menderita kanker, ada pula orang yang secara genetik lebih kecil kemungkinannya. Sebab itu, jika dalam riwayat kesehatan keluarga kita ada beberapa orang yang diketahui menderita kanker, misalnya ayah, ibu, kakak, paman, bibi, kakek, nenek, dan lain-lain, maka kita harus lebih waspada menghindari faktor-faktor lain yang dapat memicu kanker. Harus lebih selektif memilih makanan yang sehat, lebih teratur berolahraga, jangan merokok, dan hindari hidup di antara para perokok.

Dalam tubuh kita terdapat gen-gen yang potensial memicu kanker, yaitu yang disebut proto-onkogen. Karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang bersifat karsinogen (karsinogen artinya dapat menyebabkan kanker), polusi, atau terpapar pada zat-zat kimia tertentu, atau karena radiasi, proto-onkogen ini dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.

Gejala dan tandanya
Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium tidak menimbulkan gejala dalam waktu yang lama. Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik. Pada stadium awal dapat berupa gangguan haid. Jika tumor sudah menekan rektum atau kandung kemih mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih. Dapat juga terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri spontan atau nyeri pada saat bersenggama.

Pada stadium lanjut gejala yang terjadi berhubungan dengan adanya asites (penimbunan cairan dalam rongga perut), penyebaran ke omentum (lemak perut), dan organ-organ di dalam rongga perut lainnya seperti usus-usus dan hati. Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan, gangguan buang air besar dan buang air kecil. Penumpukan cairan bisa juga terjadi pada rongga dada akibat penyebaran penyakit ke rongga dada yang mengakibatkan penderita sangat merasa sesak napas.

Karena sebagian besar dari kasus kanker ovarium bermula dari suatu kista, maka apabila pada seorang wanita ditemukan suatu kista ovarium harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kista tersebut bersifat jinak atau ganas (kanker ovarium). Kewaspadaan terhadap kista yang bersifat ganas dilakukan bila:

1. Kista cepat membesar.
2. Kista pada usia remaja atau pascamenopause.
3. Kista dengan dinding yang tebal dan tidak berurutan.
4. Kista dengan bagian padat.
5. Tumor pada ovarium.

Kista ovarium ini bersifat neoplasti, ada yang jinak dan ganas. Pada kista ovarium yang jinak sebaiknya diangkat. Terdapat risiko yang paling ditakuti yaitu mengalami degenerasi keganasan. Di samping itu juga bisa mengalami torsi atau terpuntir sehingga menimbulkan nyeri akut, perdarahan, atau infeksi. Sedangkan prosedur operasi pada pasien yang tersangka kanker ovarium sangat berbeda dengan kista ovarium biasa.

Hal terpenting pada operasi pasien yang tersangka kanker ovarium adalah semaksimal mungkin berusaha agar kista tersebut keluar secara utuh, kemudian dilakukan pemeriksaan ke laboratorium Patologi Anatomik (pemeriksaan potong beku). Apabila hasil pemeriksaan potong beku bukan suatu kanker, maka operasi selesai. Sebaliknya bila hasil pemeriksaan potong beku adalah kanker ovarium maka operasi dilanjutkan dengan mengangkat rahim, ovarium sisi lain, usus buntu, omentum, melakukan biopsi pada tempat yang dicurigai adanya penjalaran kanker di rongga perut dan melakukan pengambilan kelenjar getah bening di panggul.

Sebaiknya tidak mengobati kista ovarium dengan pengobatan tradisional melihat kemungkinan terjadi keganasan. Konsultasikan dengan dokter Anda. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Terima kasih.

SUMBER:

http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=2&id=239500&kat_id=105&kat_id1=150&kat_id2=204


HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR. BUKHARI MUSLIM) UNTUK PEMESANAN HUBUNGI BIN MUHSIN HP:085227044550 EMAIL: binmuhsin_group@yahoo.co.id friendster: ujang_bmz@yahoo.co.id

Sabtu, 19 April 2008

Pengaruh Perbedaan Waktu Pemberian Premedikasi Xylazine dengan Ketamine dalam Pembiusan Anjing Lokal

HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR. BUKHARI MUSLIM) UNTUK PEMESANAN HUBUNGI BIN MUHSIN HP:085227044550 EMAIL: binmuhsin_group@yahoo.co.id friendster: ujang_bmz@yahoo.co.id

Pengaruh Perbedaan Waktu Pemberian Premedikasi Xylazine
dengan Ketamine dalam Pembiusan Anjing Lokal

(EFFECT OF TIME DIFFERENCES OF XYLAZINE ADMINISTRATION
AS PREMEDICATION FOR ANESTHESIA WITH KETAMINE IN LOCAL DOGS)

oleh
KRISTINA DAN I NYOMAN SUARTHA
Laboratorium Penyakit Dalam Veteriner
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana
Jalan Sudirman Denpasar 80232

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rentang waktu yang tepat antara pemberian premedikasi xylazine dalam pembiusan dengan ketamine, sehingga dihasilkan anastesi yang terbaik dengan memperhatikan waktu induksi, durasi, dan waktu pemulihan anastesi.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu perbedaan waktu penyuntikan premedikaasi xylazine yaitu 0 menit, 5 menit, 10 menit dan 15 menit sebelum ketamine disuntikkan. Dosis obat bius ketamine diberikan sebanyak 10 mg/kg berat badan dan premedikasi xylazine sebanyak 2 mg/kg berat badan. Setiap perlakuan menggunakan lima ekor anjing sebagai ulangan, sehingga anjing yang digunakan sebanyak dua puluh ekor. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam.
Rata-rata waktu induksi anastesi untuk perlakuan 0 menit, 5 menit, 10 menit, dan 15 menit berturut-turut adalah 6,20 menit, 4,80 menit, 5,20 menit, dan 3,80 menit. Rata-rata durasi anastesi untuk perlakuan 0 menit, 5 menit, 10 menit, 15 menit berturut-turut adalah 29,40 menit, 37,00 menit, 43,20 menit, dan 40,20 menit. Sedangkan rata-rata waktu pemulihan anastesi untuk masing-masing perlakuan adalah 60,00 menit, 52,00 menit, 63,20 menit, 55,20 menit. Analisis menunjukkan bahwa hasilnya tidak berbeda nyata (P>0,05) pengaruh perbedaan waktu pemberian premedikasi xylazine dalam pembiusan dengan ketamine terhadap waktu induksi, durasi dan waktu pemulihan.

Kata kunci: ketamin, xylazine, anjing lokal

ABSTRACT
The purpose of this study was to determined the appropriate time for the administration of xylazine as premedication for anesthesia with ketamine, as well as the best anesthesia condition, induction time, duration and recovery since from anesthesia. Expermental designs used in this study was an completelly randomized design with 4 treatment i.e : the differences in the injection of premedication (0. 5. 10. 15) minutes before ketamine injection. The doses of ketamine injected were 10 mg/kg body weight and the dose xylazine was 2 mg/kg body weigth. Twenty dogs used in this study were diveded into 4 groups of treatment and each treatment consisted of 5 dogs. The data obtaind were analyses by analysis of variance.
The average to induction time of anestetic in 0. 5. 10. and 15 minutes were 6.20, 4.80, 5.20 and 3.80 minutes respectively.the average duration of anesthesia condition for 0. 5. 10 and 15 minutes treatment were 29.4, 37.0, 43.0 and 40.20 minutes respectively. Meanwhile, the average recovery time were 60. 52. 63 and 55 minutes respectively for treatment 0. 5. 10 and 15 minutes. Analysis of variance showed that there was no significant effect of time differences of xylazine administration as induction times, duration and recovery time of anesthetic ketamine.
Key word : ketamine, xylazine, local dogs.

PENDAHULUAN
Anestetik umum yang baik dan ideal mempunyai sifat-sifat mudah cara pemberiannya, mempunyai daya analgesik pada dosis kecil, menimbulkan relaksasi otot yang cukup, tidak toksik, dan mudah dinetralkan (Brander et al., 1983).
Obat bius yang umum digunakan untuk anjing, adalah ketamine. Disamping mampu membius, obat ini menimbulkan efek yang membahayakan yaitu takikardia, hipersalivasi, meningkatkan ketegangan otot, nyeri pada tempat penyuntikan, dan bila berlebihan dosis menyebabkan pemulihan ke kondisi semula berjalan lamban dan bahkan membahanyakan (Jones et al., 1977). Efek samping yang tidak diharapkan dari suatu pembiusan itu dapat diatasi dengan pemberian premedikasi (Hall dan Clark, 1983). Premedikasi yang sering dikombinasikan dengan ketamine adalah xylazine (Sektiari dan Wiwik, 2001). Gabungan xylazine dan ketamine merupakan kombinasi yang baik karena memberikan keuntungan seperti mudah disuntikan baik secara intramuskuler maupun intravena, disamping itu induksi dan pemulihannya cepat, relaksasi otot yang baik dan jarang menimbulkan efek klinis (Benson et al.,1985). Tujuan umum pemberian premedikasi adalah untuk mengurangi rasa nyeri, membuat masa pemulihan yang lebih tenang, mengurangi dosis anestetik yang diperlukan dan mempercepat terjadinya efek anestesi (Brander et al., 1982). Beberapa peneliti menggunakan selang waktu yang berbeda-beda antara pemberian premedikasi xylazine dan obat bius ketamine. Selang pemberian itu pada anjing ada peneliti menyebutkan 0 menit (Trimastuti, 2001), 10 menit (Bishop,1996), sedangkan pada kuda 2-3 menit (Cullen,1991), ayam 15 menit (Arifin dan Kusumawati, 1998).
Perbedaan waktu antara pemberian premedikasi xylazine dan ketamine belum ada peneliti yang memberikan batasan dengan jelas. Berdasarkan hal tersebut kami melakukan penelitian untuk mengetahui perbedaan waktu yang tepat antara pemberian premedikasi xylazine dan obat bius ketamine serta pengaruhnya terhadap waktu induksi, lama teranestesi, dan waktu pemulihan anestesi pada anjing lokal.

MATERI DAN METODE

Materi
Penelitian ini menggunakan hewan percobaan anjing lokal sebanyak 20 ekor dengan berat badan berkisar dari 5 sampai 20 kg dan umur berkisar dari lima bulan hingga tiga tahun. Bahan yang diperlukan untuk penelitian ini yaitu alkohol 70%, spuite 3 ml, kapas, ketamine, dan xylazine. Sedangkan alat-alat yang diperlukan yaitu: pencatat waktu, stestokop, termometer, timbangan, alat tulis, dan pinset bergerigi.

Metode
Rancangan yang dipakai dalm penelitian ini adalah rancangan acak lengkap. Anjing diacak menjadi empat perlakuan yaitu: perlakuan I adalah anjing yang mendapat suntikan premedikasi dan anestetik secara bersamaan (0 menit), perlakuan II, III, IV masing-masing dengan waktu pemberian premedikasi 5 menit, 10 menit, 15 menit sebelum anestetik disuntuikan. Dosis yang digunakan adalah xylazine 2 mg/kg BB dan ketamine 10 mg/kg BB.
Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah waktu induksi, durasi anestesi, dan waktu pemulihan anestesi, serta pengamatan terhadap tanda anjing saat terbius, menjelang sadar, dan saat benar-benar sadar. Waktu induksi adalah waktu antara saat penyuntikan obat bius sampai hilangnya rasa nyeri (dengan mencubit telinga, sela jari kaki, dan menusuk ekor), hilangnya refleks pedal, dan pupil. Durasi anestesi ditentukan dari hilangnya rasa nyeri, refleks pedal, dan refleks pupil sampai timbulnya kesadaran yang ditandai dengan adanya gerakan kepala, lidah, ekor, pupil, anggota gerak, serta hewan merasakan rasa nyeri kembali sampai hewan sadar (Sudisma et al., 2002). Waktu pemulihan anestesi adalah waktu saat anjing tersebut sadar sampai bisa berdiri dengan keempat kaki. Data kuantitatif yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis dengan sidik ragam.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Rata-rata waktu induksi, durasi, dan pemulihan anestetik pada anjing lokal yang dibius ketamine dengan pemberian premedikasi xylazine, dan anestetik dengan selang waktu pemberian di antara keduanya waktu 0 menit, 5 menit, 10 menit, dan 15 menit dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini :
Tabel 1 : Rata-rata Waktu Induksi, Durasi, dan Pemulihan Anestesi pada Anjing Lokal yang Dibius Ketamine dengan Selang Waktu Pemberian Premedikasi Xylazine.

No Selang Waktu Xylazine-Ketamine(menit) Induksi anestesi(menit) Durasi anestesi(menit) Pemulihan anestesi(menit)
1 0 6,20 29,40 60,00
2 5 4,80 37,00 52,00
3 10 5,20 43,20 63,20
4 15 3,80 40,20 55,20
Rata-rata 5 37,45 57,60

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pemberian premedikasi xylazine tidak nyata (P>0,05) berpengaruh pada pembiusan anjing lokal dengan ketamine terhadap waktu induksi , durasi , dan pemulihan anestesi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian premedikasi xylazine dan obat bius ketamine pada anjing lokal tidak berbeda nyata pengaruhnya (P>0,05) terhadap waktu induksi, durasi, dan waktu pemulihan anestetik.
Waktu pemberian premedikasi xylazine 15 menit sebelum anestetik ketamine, memberikan waktu induksi anestesi tercepat dibandingkan dengan waktu pemberian

Gambar 1 : Grafik Rata-rata Waktu Induksi, Durasi, dan Pemulihan anestesi pada Anjing Lokal yang Dibius Ketamine dengan Perbedaan Waktu Pemberian premedikasi xylazine.

premedikasi xylazine yang lain (Gambar 1), walaupun secara statistika tidak berbeda nyata, hal ini disebabkan karena xylazine mempunyai waktu yang lebih panjang untuk menimbulkan efek, sehingga waktu induksi untuk perlakuan 15 menit lebih baik dibandingkan perlakuan yang lainnya. Rata-rata waktu induksi pada perlakuan 15 menit adalah 3,80 menit, sedangkan pada perlakuan 5 menit dan 10 menit lebih lama yaiu 4,80 menit dan 5,20 menit, hasil ini mendekati penelitian yang dilakukan Ariana (2002) yang mendapatkan rata-rata waktu induksi 5,98 menit dengan perbedaan waktu pemberian premedikasi xylazine dan obat bius ketamine 10 menit. Demikian juga dengan perlakuan 0 menit diperoleh rata-rata waktu induksi terlama yaitu 6,20 menit, ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Sudisma et al; (2002) yang melaporkan rata-rata waktu induksi 6,10 menit. Penyuntikan ketamine secara intramusculer memerlukan waktu 1 sampai 5 menit untuk menimbulkan efek (Anon, 2000).
Rata-rata durasi anestesi terlama ditemukan pada waktu pemberian premedikasi xylazine 10 menit yaitu 43,20 menit (Gambar 1), tetapi secara statistika tidak berbeda nyata (P>0,05) namun hasil ini mendekati penelitian yang dilakukan Sudisma et al., (2002) yang menyatakan bahwa waktu durasi anestesi dari pemberian kombinasi premedikasi xylazine dan obat bius ketamine adalah 43,50 menit. Hal ini menunjukkan bahwa potensi anestetik yang ditimbulkan oleh ketamine dapat ditingkatkan dengan pemberian premedikasi xylazine sehingga waktu anestesi menjadi lebih lama. Efek utama ketamine berlangsung kira-kira 30 sampai 45 menit (Anon,2000).
Rata-rata waktu pemulihan anestesi tercepat diperoleh pada perlakuan 5 menit yaitu 52,00 menit (Gambar 1). Hal ini sesuai dengan pendapat Bishop (1996) yang menyatakan waktu pemulihan anestesi dari pemberian kombinasi xylazine-ketamine adalah 45 sampai 55 menit.
Secara umum hasil penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut, bahwa diperoleh rata-rata waktu induksi anestesi tersingkat pada waktu pemberian premedikasi xylazine 15 menit, dan diikuti 5 menit, 10 menit, dan 0 menit. Rata-rata durasi terlama adalah waktu pemberian premedikasi xylazine 10 menit, kemudian diikuti 15 menit, 5 menit, dan 0 menit. Rata-rata waktu pemulihan tercepat adalah waktu pemberian premedikasi xylazine 5 menit kemudian diikuti 15 menit, 0 menit, dan 10 menit. Meskipun pada penelitian perbedaan waktu pemberian premedikasi xylazine dan obat bius ketamine pada anjing lokal secara statistika tidak berbeda nyata (P>0,05) namun pada pengamatan terlihat adanya perbedaan waktu pada masing-masing perlakuan (Gambar1).
Dari hasil tersebut dapat dikatakan waktu pemberian premedikasi xylazine dan obat bius ketamine yang terbaik adalah 10 menit. Hal ini ditinjau dari waktu durasi yang relatif lama (43,20 menit) dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya walaupun secara statistika tidak berbeda nyata (P>0,05), lama terbius pada perlakuan 10 menit cukup untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan tindakan pembedahan untuk mendiagnosis suatu penyakit pada anjing lokal.
KESIMPULAN
Kesimpulan
Rata-rata waktu induksi, durasi, dan pemulihan anestesi pada pembiusan ketamine dengan pemberian premedikasi xylazine pada anjing lokal adalah 5 menit, 37,45 menit, dan 57,60 menit.
Waktu pemberian premedikasi xylazine yang terbaik adalah 10 menit sebelum anestetik ketamine, hal ini ditinjau dari waktu durasi terlama (43,20 menit) dibandingkan dengan perlakuan lainnya walaupun secara statistika tidak berbeda nyata ( P>0,05).

Daftar Pustaka
Anonimus. 2000. The effect of Xylazine – Ketamine and Diazepam – Ketamine on Art.
http:// www.cpb.uokhsc.edu/ujur/0700.Htm

Ariana, I.G.E.P. 2002. Pengaruh Kombinasi Xylazine dan Ketamine Hydrocloride Terhadap
Waktu Induksi dan Durasi Anestesinya Pada Anjing Lokal. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan universitas Udayana.

Arifin, Z dan D. Kusumawati. 1998. Pengaruh Premedikasi Acepromazine dan Xylazine
Terhadap Anestesi Umum dengan Ketamine pada Ayam. Media Kedokteran Hewan. 14(4) : 277 – 281.

Benson, G.J., J.C. Thurmon, W.J. Tranqulli, and C.W. Smith.1985. Cardiopulmonary Effect
of An Intravenous infusion of Quaifenesin, Ketamine and Xylazine in Dogs. Am. J. Vet. Res. 46 (9) : 1986 – 1898.

Bishop, M.Y. 1996. The Veterinary Formulary – Handbook of Medicine Used in Veterinary
Practice. 3rd Ed. London. Pp 223.

Brander, G. C., D.M. Pugh, R.J. Water, and W.L. Jenkins. 1991. Veterinary Applied
Pharmacology and Therapeutics. 5th. Bailliere Tindal Limited. London

Cullen, L.K.1991. Lecture Notes on Veterinary Anasthesia. Murdoch University. Australia.
Pp 13 – 27.

Hall, L.W. and K.W. Clark. 1983. Veterinary Anaesthesia. 8th Ed. Bailliere Tindal, London.

Jones, L.M., N.H. Booth, and L.E. McDonald. 1977. Veterinary Pharmacology and
Therapeutics. Oxford and IBH Pub. Co. New Delhi. Pp292-365.

Sektiari, B. Dan M. Y. Wiwik. 2001. Pengaruh Premedikasi Acepromazine Terhadap
Tekanan Intraokuler pada Anjing yang di Anestesi dengan Ketamine HCl. Media Kedokteran Hewan. 17 (3) : 120 – 122.

Sudisma, I G.N., A.A.G. Jayawardhita, I G.A.G.P. Pemayun, I W. Gorda, dan I K. A. Dada.
2002. Uji Klinik Premedikasi Xylazine dan Diazepam Terhadap Anestetik Ketamine pada Anjing Lokal. J. Vet Vol.3(3) : 104 – 107.

Trimastuti, I G.A. 2001. Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis gabungan Xylazine dan
Ketamine Hydrocloride Terhadap Waktu Induksi dan Lama Kerja Anestesinya Pada Anjing Lokal. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Udayana. Denpasar.

SUMBER: http://www.jvetunud.com/archives/53/

Jumat, 18 April 2008

Epilepsi Tingkatkan Risiko Bunuh Diri

Habbatussauda obat epilepsiINSYA ALLAH DENGAN HABBATUSSAUDA SAKIT EPILEPSI BISA DIOBATI. AMIN.

Habbatussauda obat segala macam penyakit kecuali kematian (HR. Bukhari - Muslim) Untuk pemesanan hubungi Bin Muhsin di HP: 085227044550 email: binmuhsin_group@yahoo.co.id atau kunjungi http://www.binmuhsinhabbatussauda.blogspot.com

Washington (ANTARA News) - Para pasien yang baru saja didiagnosa menderita epilepsi memiliki risiko tinggi untuk melakukan bunuh diri, sehingga para dokter yang merawatnya harus terus menerus mengawasi mereka, demikian hasil penelitian ilmuwan Demark.

Pasien penderita epilepsi memiliki risiko melakukan bunuh diri tiga kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang bukan, namun risiko tersebut akan menurun apabila si pasien sudah menerima kondisi keadaan kesehatan, kata ilmuwan tersebut, seperti dikutip Reuters Health.

"Hasil penelitian kami terhadap pasien epilepsi yang baru didiagnosa menderita penyakit yang menurun menurut garis keturunan sebagai kelompok yang harus menjadi kelompok yang paling berisiko, sehingga perlu mendapat penanganan khusus," ujar para ilmuwan yang memuat hasil temuan mereka dilansir di salah satu Jurnal Kedokteran Syaraf, Lancet Neurology, edisi Juli 2007.

Dari pengamatan dan penelitian kami menemukan orang-orang yang baru didiagnosa menderita epilepsi sebagai kelompok yang paling rentan dan perlu mendapatkan penanganan khusus, kata para ilmuwan tersebut.

Para pasien yang didiagnosa pada enam bulan lalu atau kurang lima kali, ditemukan fakta lebih besar kecenderungnya untuk melakukan bunuh diri, demikian dikatakan oleh Dr. Per Sidenius dan rekan-rekannya dari rumah sakit Aarhus, Denmark.

Para ilmuwan Denmark tersebut membandingkan data medis lebih dari 21.000 pasien yang melakukan bunuh diri, dan lebihj dari 43.000 yang meninggal akibat alasan lain, yakni antara tahun 1981 hingga 1997.

"Di antara mereka yang melakukan bunuh diri, ada 492 atau 2,32 persen memiliki sejarah penyakit epilepsi, dibandingkan dengan 3.140 orang atau 0,74 persen lainnya," kata para pakar ilmu syaraf tersebut.

Mereka-mereka yang dinyatakan mengidap epilepsi yang memiliki catatan dengan penyakit kejiwaan memiliki kecenderungan 29 kali lipat lebih tinggi untuk melakukan aksi bunuh diri. (*)

Sumber:

http://www.antara.co.id/arc/2007/7/3/epilepsi-tingkatkan-risiko-bunuh-diri/


HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR. BUKHARI MUSLIM) UNTUK PEMESANAN HUBUNGI BIN MUHSIN HP:085227044550 EMAIL: binmuhsin_group@yahoo.co.id friendster: ujang_bmz@yahoo.co.id

Epilepsi Tingkatkan Risiko Bunuh Diri

Habbatussauda obat epilepsiINSYA ALLAH DENGAN HABBATUSSAUDA SAKIT EPILEPSI BISA DIOBATI. AMIN.

Habbatussauda obat segala macam penyakit kecuali kematian (HR. Bukhari - Muslim) Untuk pemesanan hubungi Bin Muhsin di HP: 085227044550 email: binmuhsin_group@yahoo.co.id atau kunjungi http://www.binmuhsinhabbatussauda.blogspot.com

Washington (ANTARA News) - Para pasien yang baru saja didiagnosa menderita epilepsi memiliki risiko tinggi untuk melakukan bunuh diri, sehingga para dokter yang merawatnya harus terus menerus mengawasi mereka, demikian hasil penelitian ilmuwan Demark.

Pasien penderita epilepsi memiliki risiko melakukan bunuh diri tiga kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang bukan, namun risiko tersebut akan menurun apabila si pasien sudah menerima kondisi keadaan kesehatan, kata ilmuwan tersebut, seperti dikutip Reuters Health.

"Hasil penelitian kami terhadap pasien epilepsi yang baru didiagnosa menderita penyakit yang menurun menurut garis keturunan sebagai kelompok yang harus menjadi kelompok yang paling berisiko, sehingga perlu mendapat penanganan khusus," ujar para ilmuwan yang memuat hasil temuan mereka dilansir di salah satu Jurnal Kedokteran Syaraf, Lancet Neurology, edisi Juli 2007.

Dari pengamatan dan penelitian kami menemukan orang-orang yang baru didiagnosa menderita epilepsi sebagai kelompok yang paling rentan dan perlu mendapatkan penanganan khusus, kata para ilmuwan tersebut.

Para pasien yang didiagnosa pada enam bulan lalu atau kurang lima kali, ditemukan fakta lebih besar kecenderungnya untuk melakukan bunuh diri, demikian dikatakan oleh Dr. Per Sidenius dan rekan-rekannya dari rumah sakit Aarhus, Denmark.

Para ilmuwan Denmark tersebut membandingkan data medis lebih dari 21.000 pasien yang melakukan bunuh diri, dan lebihj dari 43.000 yang meninggal akibat alasan lain, yakni antara tahun 1981 hingga 1997.

"Di antara mereka yang melakukan bunuh diri, ada 492 atau 2,32 persen memiliki sejarah penyakit epilepsi, dibandingkan dengan 3.140 orang atau 0,74 persen lainnya," kata para pakar ilmu syaraf tersebut.

Mereka-mereka yang dinyatakan mengidap epilepsi yang memiliki catatan dengan penyakit kejiwaan memiliki kecenderungan 29 kali lipat lebih tinggi untuk melakukan aksi bunuh diri. (*)

Sumber:

http://www.antara.co.id/arc/2007/7/3/epilepsi-tingkatkan-risiko-bunuh-diri/


HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR. BUKHARI MUSLIM) UNTUK PEMESANAN HUBUNGI BIN MUHSIN HP:085227044550 EMAIL: binmuhsin_group@yahoo.co.id friendster: ujang_bmz@yahoo.co.id