Tampilkan postingan dengan label PENYAKIT EPILEPSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENYAKIT EPILEPSI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Mei 2008

Berprestasi meski Epilepsi

INSYA ALLA HABBATUSSAUDA MEMBANTU MENCEGAH DAN MENGATASI EPILEPSI. AMIN.

HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR. BUKHARI MUSLIM) UNTUK PEMESANAN HUBUNGI BIN MUHSIN HP:085227044550 EMAIL: binmuhsin_group@yahoo.co.id friendster: ujang_bmz@yahoo.co.id

===

Jemari tangan Adytia yang gempal menari lincah di atas tuts piano. Dan, denting-denting dawainya mengalunkan lembut lagu klasik berjudul Consolation karya Franzliszt, komposer asal Budapest. Tak tampak sesuatu yang berbeda pada pemuda usia 17 tahun ini, sebelum ibunya berkisah tentang riwayat masa kecilnya.

Pada usia 8 tahun, Adytia terserang demam berdarah yang nyaris merenggut nyawanya. Namun, setelah itu dampak buruk harus ditanggungnya. Ia menjadi penyandang epilepsi.

Seusai menjalani operasi pada 2004 dan berkat ketekunan sang ibu yang merawatnya dengan baik setelah sekian lama, Adytia tidak lagi mengalami serangan epilepsi sejak setahun terakhir. Semangat hidup dan kepercayaan diri pun dibangun kembali lewat bimbingan keluarga.

Adytia tidak lagi canggung dan minder berada di depan khalayak. Kepercayaan diri itu dibangkitkan lewat latihan memainkan piano sejak dua tahun hingga mencapai tahap mahir. Menurut rencana, Adytia akan ikut serta dalam Festival Musik di Singapura Juni mendatang dan mengikuti kontes Ananta Suharlan Award di Jakarta.

Sosok Adytia merupakan contoh bahwa menjadi penyandang epilepsi bukan berarti nasib buruk sepanjang hidup dan beban bagi keluarga. Sebaliknya, penyandang epilepsi dapat berprestasi dan membanggakan keluarganya.

”Bila epilepsi pada anak dapat ditangani dengan baik dan terkontrol hingga di bawah usia 18 tahun, maka tidak akan terulang pada usia dewasa. Dengan penanganan yang baik, tingkat kesembuhan atau dalam kondisi terkontrol dapat mencapai 80 persen,” ujar Irawan Mangunatmadja, konsultan neurologi anak dari Klinik Anakku Cinere.

Namun, ia melihat untuk dapat sembuh bukan hal yang mudah. Faktor kesembuhan bergantung pada keteraturan pasien mengonsumsi obat, tapi yang sekarang menjadi masalah adalah daya beli orangtua yang rendah untuk membeli obat.

Padahal, untuk pengobatan itu bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah setiap bulan dan harus dijalani dalam jangka waktu panjang serta tidak terputus. Kalau pengobatan pasien tidak terkontrol dan teratur, kondisi kesehatannya akan makin memburuk.

Tingginya biaya pengobatan itu diperlukan bukan hanya untuk mengurangi atau mengendalikan serangan, tetapi juga untuk mengatasi faktor pencetusnya, misalnya karena infeksi virus.

Kasus epilepsi pada anak belakangan ini mengalami peningkatan. Hal ini berkorelasi dengan asupan makanan bergizi pada ibu hamil sehingga melahirkan bayi dengan gangguan perkembangan dan kesehatan. Karena itu, perlu dipikirkan layanan pengobatan bagi anak dari keluarga miskin. Ia menyarankan beberapa obat yang murah, seperti fenobarbitol, perlu diproduksi lebih banyak. Namun, ia melihat kenyataan perusahaan farmasi mengurangi produksi obat murah karena pertimbangan skala ekonominya rendah.

Tingginya kejadian epilepsi pada anak, selain karena faktor genetik, juga disebabkan kelainan pada masa perinatal, seperti berat lahir kurang dan perkembangan terlambat. Masalah itu bersumber dari asupan nutrisi kurang pada masa dalam kandungan hingga menyebabkan gangguan perkembangan otak dan timbulnya epilepsi.

Menurut pengamatan Irawan, di antara kasus yang ditangani, terbanyak disebabkan oleh infeksi virus yang menyebabkan radang otak, seperti meningitis dan ensepalitis.

Pola serangan

Pola serangan epilepsi dimulai dari bayi berumur satu tahun hingga lima tahun. Kejadian serangan epilepsi pada anak-anak paling tinggi terjadi pada usia tiga tahun ke bawah. Setelah lima tahun kemudian menurun.

Penurunan serangan itu, ujar Lyna Soertidewi, Ketua Perhimpunan Penanggulangan Epilepsi Indonesia (Perpei), dapat terjadi dengan meningkatnya daya tahan tubuh. Namun, pada masa dewasa ada kemungkinan kembali muncul karena penyakit degeneratif, tumor, atau stroke.

Ditambahkan Manfaluthy Hakim, Sekjen Perpei, tingginya kasus epilepsi pada kelompok dewasa perlu dicermati. Salah satu penyebab epilepsi adalah cedera pada kepala yang menyebabkan patah tulang tengkorak hingga menyebabkan perdarahan. Ini menjadi fokus dari epilepsi. Pada dewasa muda hal ini banyak ditemukan berkaitan dengan tingginya kasus kecelakaan pengendara sepeda motor.

Epilepsi adalah gangguan mendadak, sesaat, dan berulang-ulang pada satu sistem saraf otak. Otak dapat dibayangkan bekerja seperti komputer. Di dalamnya ada komponen berupa sel otak yang berhubungan satu sama lain lewat impuls listrik kecil. Ketika aktivitas listrik tidak normal karena berbagai sebab tersebut, maka terjadi serangan, urai Lyna.

Obat obatan yang diberikan tidak langsung menyembuhkan epilepsi, tapi hanya bersifat mengendalikan atau menjarangkan serangan, bahkan menghilangkannya. Seorang penyandang epilepsi umumnya memerlukan obat sampai tidak dijumpai lagi serangan dalam jarak waktu tertentu, tergantung dari tipe epilepsi, riwayat epilepsi masa lalu, dan hasil rekaman listrik otak.

Epilepsi sebagai simptomatik, lanjut Lyna, angka kejadiannya di Indonesia sekitar 23 persen, tetapi sebagian besar atau 77 persen tidak dapat diketahui penyebabnya secara pasti (idiopatik), diduga bersifat genetis.

Sebagai penyakit kronik, epilepsi menyerang 1 dari setiap 2.000 penduduk Indonesia. Sebanyak 50 persen kasus yang ditemukan mengalami serangan pertama sebelum usia 18 tahun. Bila berlanjut terus, gangguan kesehatan ini dapat menjadi masalah penyandangnya pada usia produktif, ungkap Lyna yang juga Sekretaris Jenderal Persatuan Dokter Syaraf Indonesia.

Wanita penyandang epilepsi mempunyai masalah lebih banyak daripada pria, berhubungan dengan siklus haid (epilepsi katamenial), melahirkan, dan menyusui.

Pertolongan pasien

Dijelaskan Lyna, menghadapi pasien epilepsi, orang di sekitarnya diharapkan dapat membantu mencegah keparahan pasien dengan melakukan beberapa langkah penanggulangan. Bila Anda dekat dengan penderita epilepsi yang tengah mengalami serangan, hindarkan ia dari benda dan tempat berbahaya, serta benturan kepala. Longgarkan bajunya, miringkan kepalanya ke samping untuk mencegah lidahnya menutupi jalan pernapasan.

Biarkan kejang berlangsung dan jangan memasukkan benda keras ke dalam mulut. Hal itu dapat menyebabkan gigi patah. Penderita akan bingung dan mengantuk, biarkan ia istirahat.

Laporkan kepada keluarganya untuk mendapat pengobatan dokter. Bila serangan berulang dan penderita terluka berat, penderita harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit.

Serangan dapat berkurang sampai hilang tergantung dari keteraturan mengonsumsi obat anti-epilepsi. Sementara minum obat epilepsi, hindari minuman beralkohol dan bentuk pengobatan lain. Bila akan minum obat lain harus berkonsultasi dengan dokter keluarga. Laporkan semua masalah yang timbul, seperti kemerahan pada kulit dan pusing. (YUN)


HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR. BUKHARI MUSLIM) UNTUK PEMESANAN HUBUNGI BIN MUHSIN HP:085227044550 EMAIL: binmuhsin_group@yahoo.co.id friendster: ujang_bmz@yahoo.co.id

Berprestasi meski Epilepsi

INSYA ALLA HABBATUSSAUDA MEMBANTU MENCEGAH DAN MENGATASI EPILEPSI. AMIN.

HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR. BUKHARI MUSLIM) UNTUK PEMESANAN HUBUNGI BIN MUHSIN HP:085227044550 EMAIL: binmuhsin_group@yahoo.co.id friendster: ujang_bmz@yahoo.co.id

===

Jemari tangan Adytia yang gempal menari lincah di atas tuts piano. Dan, denting-denting dawainya mengalunkan lembut lagu klasik berjudul Consolation karya Franzliszt, komposer asal Budapest. Tak tampak sesuatu yang berbeda pada pemuda usia 17 tahun ini, sebelum ibunya berkisah tentang riwayat masa kecilnya.

Pada usia 8 tahun, Adytia terserang demam berdarah yang nyaris merenggut nyawanya. Namun, setelah itu dampak buruk harus ditanggungnya. Ia menjadi penyandang epilepsi.

Seusai menjalani operasi pada 2004 dan berkat ketekunan sang ibu yang merawatnya dengan baik setelah sekian lama, Adytia tidak lagi mengalami serangan epilepsi sejak setahun terakhir. Semangat hidup dan kepercayaan diri pun dibangun kembali lewat bimbingan keluarga.

Adytia tidak lagi canggung dan minder berada di depan khalayak. Kepercayaan diri itu dibangkitkan lewat latihan memainkan piano sejak dua tahun hingga mencapai tahap mahir. Menurut rencana, Adytia akan ikut serta dalam Festival Musik di Singapura Juni mendatang dan mengikuti kontes Ananta Suharlan Award di Jakarta.

Sosok Adytia merupakan contoh bahwa menjadi penyandang epilepsi bukan berarti nasib buruk sepanjang hidup dan beban bagi keluarga. Sebaliknya, penyandang epilepsi dapat berprestasi dan membanggakan keluarganya.

”Bila epilepsi pada anak dapat ditangani dengan baik dan terkontrol hingga di bawah usia 18 tahun, maka tidak akan terulang pada usia dewasa. Dengan penanganan yang baik, tingkat kesembuhan atau dalam kondisi terkontrol dapat mencapai 80 persen,” ujar Irawan Mangunatmadja, konsultan neurologi anak dari Klinik Anakku Cinere.

Namun, ia melihat untuk dapat sembuh bukan hal yang mudah. Faktor kesembuhan bergantung pada keteraturan pasien mengonsumsi obat, tapi yang sekarang menjadi masalah adalah daya beli orangtua yang rendah untuk membeli obat.

Padahal, untuk pengobatan itu bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah setiap bulan dan harus dijalani dalam jangka waktu panjang serta tidak terputus. Kalau pengobatan pasien tidak terkontrol dan teratur, kondisi kesehatannya akan makin memburuk.

Tingginya biaya pengobatan itu diperlukan bukan hanya untuk mengurangi atau mengendalikan serangan, tetapi juga untuk mengatasi faktor pencetusnya, misalnya karena infeksi virus.

Kasus epilepsi pada anak belakangan ini mengalami peningkatan. Hal ini berkorelasi dengan asupan makanan bergizi pada ibu hamil sehingga melahirkan bayi dengan gangguan perkembangan dan kesehatan. Karena itu, perlu dipikirkan layanan pengobatan bagi anak dari keluarga miskin. Ia menyarankan beberapa obat yang murah, seperti fenobarbitol, perlu diproduksi lebih banyak. Namun, ia melihat kenyataan perusahaan farmasi mengurangi produksi obat murah karena pertimbangan skala ekonominya rendah.

Tingginya kejadian epilepsi pada anak, selain karena faktor genetik, juga disebabkan kelainan pada masa perinatal, seperti berat lahir kurang dan perkembangan terlambat. Masalah itu bersumber dari asupan nutrisi kurang pada masa dalam kandungan hingga menyebabkan gangguan perkembangan otak dan timbulnya epilepsi.

Menurut pengamatan Irawan, di antara kasus yang ditangani, terbanyak disebabkan oleh infeksi virus yang menyebabkan radang otak, seperti meningitis dan ensepalitis.

Pola serangan

Pola serangan epilepsi dimulai dari bayi berumur satu tahun hingga lima tahun. Kejadian serangan epilepsi pada anak-anak paling tinggi terjadi pada usia tiga tahun ke bawah. Setelah lima tahun kemudian menurun.

Penurunan serangan itu, ujar Lyna Soertidewi, Ketua Perhimpunan Penanggulangan Epilepsi Indonesia (Perpei), dapat terjadi dengan meningkatnya daya tahan tubuh. Namun, pada masa dewasa ada kemungkinan kembali muncul karena penyakit degeneratif, tumor, atau stroke.

Ditambahkan Manfaluthy Hakim, Sekjen Perpei, tingginya kasus epilepsi pada kelompok dewasa perlu dicermati. Salah satu penyebab epilepsi adalah cedera pada kepala yang menyebabkan patah tulang tengkorak hingga menyebabkan perdarahan. Ini menjadi fokus dari epilepsi. Pada dewasa muda hal ini banyak ditemukan berkaitan dengan tingginya kasus kecelakaan pengendara sepeda motor.

Epilepsi adalah gangguan mendadak, sesaat, dan berulang-ulang pada satu sistem saraf otak. Otak dapat dibayangkan bekerja seperti komputer. Di dalamnya ada komponen berupa sel otak yang berhubungan satu sama lain lewat impuls listrik kecil. Ketika aktivitas listrik tidak normal karena berbagai sebab tersebut, maka terjadi serangan, urai Lyna.

Obat obatan yang diberikan tidak langsung menyembuhkan epilepsi, tapi hanya bersifat mengendalikan atau menjarangkan serangan, bahkan menghilangkannya. Seorang penyandang epilepsi umumnya memerlukan obat sampai tidak dijumpai lagi serangan dalam jarak waktu tertentu, tergantung dari tipe epilepsi, riwayat epilepsi masa lalu, dan hasil rekaman listrik otak.

Epilepsi sebagai simptomatik, lanjut Lyna, angka kejadiannya di Indonesia sekitar 23 persen, tetapi sebagian besar atau 77 persen tidak dapat diketahui penyebabnya secara pasti (idiopatik), diduga bersifat genetis.

Sebagai penyakit kronik, epilepsi menyerang 1 dari setiap 2.000 penduduk Indonesia. Sebanyak 50 persen kasus yang ditemukan mengalami serangan pertama sebelum usia 18 tahun. Bila berlanjut terus, gangguan kesehatan ini dapat menjadi masalah penyandangnya pada usia produktif, ungkap Lyna yang juga Sekretaris Jenderal Persatuan Dokter Syaraf Indonesia.

Wanita penyandang epilepsi mempunyai masalah lebih banyak daripada pria, berhubungan dengan siklus haid (epilepsi katamenial), melahirkan, dan menyusui.

Pertolongan pasien

Dijelaskan Lyna, menghadapi pasien epilepsi, orang di sekitarnya diharapkan dapat membantu mencegah keparahan pasien dengan melakukan beberapa langkah penanggulangan. Bila Anda dekat dengan penderita epilepsi yang tengah mengalami serangan, hindarkan ia dari benda dan tempat berbahaya, serta benturan kepala. Longgarkan bajunya, miringkan kepalanya ke samping untuk mencegah lidahnya menutupi jalan pernapasan.

Biarkan kejang berlangsung dan jangan memasukkan benda keras ke dalam mulut. Hal itu dapat menyebabkan gigi patah. Penderita akan bingung dan mengantuk, biarkan ia istirahat.

Laporkan kepada keluarganya untuk mendapat pengobatan dokter. Bila serangan berulang dan penderita terluka berat, penderita harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit.

Serangan dapat berkurang sampai hilang tergantung dari keteraturan mengonsumsi obat anti-epilepsi. Sementara minum obat epilepsi, hindari minuman beralkohol dan bentuk pengobatan lain. Bila akan minum obat lain harus berkonsultasi dengan dokter keluarga. Laporkan semua masalah yang timbul, seperti kemerahan pada kulit dan pusing. (YUN)


HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR. BUKHARI MUSLIM) UNTUK PEMESANAN HUBUNGI BIN MUHSIN HP:085227044550 EMAIL: binmuhsin_group@yahoo.co.id friendster: ujang_bmz@yahoo.co.id

Senin, 14 April 2008

MANIA

habbatussauda obt penyakit epilepsiINSYA ALLAH DENGAN HABBATUSSAUDA PENYAKIT MANIA BISA DI SEMBUHKAN.

Habbatussauda obat segala macam penyakit kecuali kematian (HR. Bukhari - Muslim) Untuk pemesanan hubungi Bin Muhsin di HP: 085227044550 email: binmuhsin_group@yahoo.co.id atau kunjungi web kami http://www.binmuhsinhabbatussauda.blogspot.com

NAMA

Mania

DEFINISI

Mania ditandai dengan aktivitas fisik yang berlebihan dan perasaan gembira yang luar biasa, yang secara keseluruhan tidak sebanding dengan peristiwa positif yang terjadi.

Bentuk mania yang lebih ringan adalah hipomania.

Pada kelainan unipolar, depresi terjadi tanpa disertai oleh episode manik.
Mania seringkali merupakan bagian dari kelainan bipolar (penyakit manik-depresif).
Beberapa orang yang tampaknya hanya menderita mania, mungkin sesungguhnya mengalami episode depresi yang ringan atau singkat.

Baik mania maupun hipomania lebih jarang terjadi dibandingkan dengan depresi.
Mania dan hipomania agak sulit dikenali; kesedihan yang berat dan berkelanjutan akan mendorong seseorang untuk berobat ke dokter, sedangkan kegembiraan jarang mendorong seseorang untuk berobat ke dokter karena penderita mania tidak menyadari adanya sesuatu yang salah dalam keadaan maupun perilaku mentalnya.

PENYEBAB

Kelainan fisik yang bisa menyebabkan mania:

  1. Efek samping obat-obatan
    - Amfetamin
    - Obat anti-depresi
    - Bromokriptin
    - Kokain
    - Kortikosteroid
    - Levodopa
    - Metilfenidat
  2. Infeksi
    - AIDS
    - Ensefalitis
    - Influenza
    - Sifilis (stadium lanjut)
  3. Kelainan hormonal
    - Hipertiroidisme
  4. Penyakit jaringan ikat
    - Lupus eritematosus sistemik
  5. Kelainan neurologis
    - Tumor otak
    - Cedera kepala
    - Korea Huntington
    - Sklerosis multipel
    - Stroke
    - Korea Sydenham
    - Epilepsi lobus temporalis

GEJALA

Gejala manik berkembang dengan cepat dalam beberapa hari.
Pada stadium awal mania, penderita merasa lebih baik dari biasanya dan seringkali tampak lebih ceria, lebih muda dan lebih bersemangat.

Penderita biasanya merasa senang, tetapi juga bisa mudah tersinggung, senang bertengkar atau memusuhi secara terang-terangan.
Yang khas adalah bahwa penderita yakin dirinya baik-baik saja.

Kurangnya pengertian akan keadaannya sendiri disertai dengan aktivitas yang sangat luar biasa, bisa menyebabkan penderita tidak sabar, mengacau, suka mencampuri urusan orang lain dan jika kesal akan lekas marah dan menyerang.

Aktivitas mentalnya semakin cepat (suatu keadaan yang disebut flight of ideas).
Perhatian penderita mudah teralihkan dan selalu berpindah-pindah dari satu tema ke tema lainnya.

Penderita memiliki keyakinan yang salah mengenai kekayaan, kekuasaan, keahlian dan kecerdasan seseorang; dan kadang menganggap dirinya adalah Tuhan.

Penderita yakin bahwa dirinya sedang dibantu atau dihukum oleh orang lain; atau memiliki halusinasi, yaitu mendengar dan melihat benda-benda yang sesungguhnya tidak ada.

Kebutuhan tidurnya berkurang.
Penderita tidak henti-hentinya mengikuti berbagai kegiatan (misalnya usaha dagang yang beresiko, judi atau perilaku seksual yang berbahaya), tanpa memikirkan bahaya sosial yang mungkin terjadi.

Pada kasus yang berat, aktivitas fisik dan mental penderita sangat hiruk pikuk sehingga setiap kaitan yang jelas antara suasana hati dan perilaku hilang dalam suatu bentuk agitasi yang tanpa perasaan (mania delirius).
Pada keadaan ini diperlukan penanganan segera, karena penderita bisa meninggal akibat kelelahan fisik yang luar biasa.

Gejala-gejala mania:

  1. Suasana hati
    - Gembira, mudah tersinggung atau bermusuhan
    - Kesedihan sesaat
  2. Gejala psikis lainnya
    - Harga diri yang berlebihan, membual, merasa berkuasa
    - Fikiran melompat-lompat, fikiran yang baru dipicu oleh bunyi kata-kata, bukan oleh artinya; cenderung mudah teralihkan
    - Minat yang berlebihan terhadap kegiatan yang baru, semakin banyak berhubungan dengan orang-orang (yang seringkali merasa terasing karena penderita suka ikut campur dan mengganggu), senang berbelanja, kecerobohan seksual, penanaman modal pada usaha yang konyol
  3. Gejala psikotik
    - Delusi akan bakat yang luar biasa
    - Delusi akan kebugaran fisik yang luar biasa
    - Delusi akan kekayaan, keturunan bangsawan atau identitas kebesaran lainnya
    - Halusinasi dengar atau lihat
    - Paranoia
  4. Gejala fisik
    - Tingkat aktivitas meningkat
    - Mungkin terjadi penurunan berat badan karena meningkatnya aktivitas dan kurangnya makan
    - Berkurangnya kebutuhan akan tidur
    - Meningkatnya gairah seksual.

DIAGNOSA

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya.

PENGOBATAN

Litium bisa mengurangi gejala-gejala mania.

Litium baru mulai bekerja setelah 4-10 hari, karena itu pada saat yang sama diberikan obat yang bekerja segera (misalnya haloperidol) untuk mengendalikan fikiran dan aktivitas yang berlebihan.
Tetapi haloperidol bisa menyebabkan kekakuan otot dan pergerakan yang tidak biasa. Karena itu diberikan dalam dosis kecil, yang dikombinasikan dengan benzodiazepin (misalnya lorazepam atau klonazepam), yang akan memperkuat efek anti-manik dari haloperidol dan mengurangi efek samping yang tidak diinginkan.

SUMBER http://www.medicastore.com


HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR. BUKHARI MUSLIM) UNTUK PEMESANAN HUBUNGI BIN MUHSIN HP:085227044550 EMAIL: binmuhsin_group@yahoo.co.id friendster: ujang_bmz@yahoo.co.id